Masuk dalam Lima Besar Blog Terbaik 2008 Versi Maverick Indonesia
Blog http://adhikusumaputra.blogspot.com masuk dalam 5 besar blog "Click of The Year" 2008 pilihan Maverick Indonesia. Saya berterima kasih kepada tim Maverick yang memilih blog ini sampai akhirnya masuk dalam Lima Besar blog terbaik versi Maverick. Berikut ini artikel yang dimuat weblog Maverick. (KSP)
2008 Maverick “Click of The Year” goes to…
In Maverick, we’re not only serious about blogging; we also have lots of fun with it! Click of The Week has become our new racing game, where Maverick kids compete to spot journalists blogs over the net and have it being reviewed in our blog.
Each year, during Maverick’s Media Gathering, we crowned a journalist as the recipient of our Click of The Year Award.Judged by the Mavericks (cat-fight involved), this award is given to the most outstanding journalist blog from our 2008 Click of The Week list, and convey these following qualities:
Attractiveness of the issues covered (read: what’s attractive and sexy enough for Maverick kids)
Writing styles
Clarity in presenting opinion – this matters because we believe the differentiator of blogs compared to conventional media is the ablity of blog to capture the writer’s personal opinion.
Blog design and layout
From 15 journalist blogs featured in our Click of The Week, 5 nominees were selected by Maverick kids.
They are:
Manda La Mendol who writes about culinary adventure—and we love food!
Robert Adhi Kusumaputra who writes about current issues and regularly reviewing others’ blogs
Merry Magdalena who writes about feminism issues (no wonder, most of the associates here in Maverick are women; sassy ones)
Irawan Santoso who writes about law and high-profile court cases
Kelik M. Nugroho who writes about his vintage collections of LP records
Once the nominees were selected, Maverick kids were cat-fighting with each other to ensure that the blog they nominate would win the award. This is done by highlighting and “selling” the quality of the blog they’ve selected to other Mavericks; debating on certain criteria, and raising our hands up high when disagreeing upon something (of course, this is done while munching a bowl of cakue and sipping cups of coffee).
After spending more than 2 hours debating on who should win this year’s Click of The Year Award, the Mavericks decided that the award goes to Irawan Santoso and his blog, RECHSTAAT (interesting, turn out that the Mavericks just love to read about law—or is it about the lawyers?
Irawan Santoso received a plaque from Maverick’s Ong Hock Chuan a.k.a. Austin Powers]
On Maverick Night Fever last Thursday, we officially crowned Irawan as the winner of 2008 Maverick Click of The Year (last year, Andreas Harsono from Pantau received this award).
Irawan is not a new to some of the Mavericks, because he is also the winner of 2006 and 2007’s Anugerah Adiwarta Sampoerna journalism award in law category.
Congratulations! Keep blogging! Blog on!
By hanny 01 Jul 08 Blogging, Click Of The Week, Event, Maverick
Tuesday, July 15, 2008
Masuk dalam Lima Besar Blog Terbaik 2008 Versi Maverick Indonesia
Diposting oleh
Robert Adhi Ksp
di
15.7.08
2
komentar
Label: Blog
Menikmati Liburan (3) Suasana Alam di Bogor
Menikmati Liburan (3)
Suasana Alam di Bogor
SETELAH menikmati suasana laut dengan deburan ombaknya, kami memilih berlibur dalam suasana alam di Bogor. Meski jaraknya relatif dekat dengan Jakarta, Bogor adalah tempat beristirahat dari panasnya Jakarta. Kami menginap di Hotel Novotel Bogor yang asri.
Hotel yang dikelola Accor Hospitality dan memiliki 178 kamar itu ternyata juga penuh. Separuh di antaranya diisi peserta rapat perusahaan, dan setengahnya wisatawan, baik orang Indonesia maupun orang asing. Saat kami datang, ada sekelompok wisatawan asal Perancis yang juga baru tiba. Lokasinya di tengah permukiman Golf Estate Bogor Raya, tak jauh dari gerbang tol Jagorawi.
Keunikan hotel resor ini adalah memiliki halaman rumput yang luas serta pepohonan yang meneduhkan. Taman nan hijau ini menjadi keunggulan hotel ini karena sebagian besar kamar memiliki view langsung ke taman Kami memilih kamar dengan bathtub di luar sehingga saat membersihkan badan pun menjadi aktivitas unik. Suasana seperti ini mirip dengan resor-resor di tepi pantai seperti di Tanjung Lesung, Pandeglang (Banten) atau pun resor di Bali.
Kamar berlantai kayu ini memiliki satu kamar tidur berukuran besar dengan satu sofa santai untuk menonton televisi.Saat petang, kami menikmati suasana teduh di taman nan hijau. Kolam renang dengan desain eksotis, berbeda dengan desain kolam renang umumnya di hotel. Pengelola hotel menyediakan fasilitas olahraga lainnya seperti lapangan tenis, meja pingpong, lapangan voli pantai.
Dan seperti halnya hotel-hotel Novotel lainnya, Dolfi Kids Club merupakan fasilitas bermain untuk anak. Semua dindingnya terbuat dari kaca. Ada sejumlah buku yang dapat dibaca saat waktu luang. Saya sempat membaca komik petualanganTin Tin di Sovyet, dalam format ukuran lebih kecil (sekarang diterbitkan Gramedia, bukan lagi Indira).
Saat malam tiba, kami memilih makan di “Bale Bengong”, tempat makan lesehan yang lokasinya dibuat sedemikian rupa sehingga suasana makan malam begitu romantis. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Restoran Meranti, restoran utama di Novotel Bogor. Tamu-tamu di “Bale Bengong”, saya tebak dari Korea Selatan dan India (bisa jadi orang Singapura atau Malaysia keturunan India).
Restoran lainnya. Capriccio” menyajikan pasta-pizza “home-made” dan menu Mediterania. Tamu bisa menikmati makan malam romantis dengan terang lilin.Accor Hospitality merupakan perusahaan pengelola hotel terkemuka di dunia.
Accor yang bermarkas di Perancis ini, mengelola hotel dan resor Sofitel, Grand Mercure, Novotel, Mercure, all seasons, Ibis, Formule-1. Di Jakarta sendiri, belum ada Hotel Novotel. Yang ada Sofitel, Gran Mahakam di Blok M. Yang banyak, jaringan Hotel Ibis (mulai Ibis Slipi, Ibis Kemayoran, Ibis Mangga Dua, Ibis Tamarin, Ibis Arcadia) dan Mercure (Hayam Wuruk dan Ancol). Ada juga Formule-1 di Menteng.
Nah, kembali ke Bogor. Menikmati liburan di Bogor, kami menikmati pula masakan Sunda. Karena lama pernah tinggal di Bandung, kami sangat menikmati nasi timbel komplet di rumah makan “Sunda Kelapa” dan “Bale Kabayan” di kota itu, saat makan siang dalam dua hari berlibur di Bogor. Sungguh nikmat....
Satu saja yang “kurang nyaman” di Bogor, yaitu kemacetan lalu lintas akibat angkot-angkot. Terlalu banyak angkot di kota itu. Meski begitu, kami merindukan suasana alam yang asri dan teduh.
Di Bogor, “refresh your mind, focus and have fun”. Liburan yang berkesan dan menyenangkan, tetap dapat dinikmati di negeri nan indah ini. Orang asing saja terkagum-kagum pada keindahan alam dan keramahtamahan penduduk Indonesia. Tentunya kita sebagai warga negara Indonesia harus bangga pada negeri indah nan rupawan ini. Anda setuju kan jika kita berharap para pemimpin Indonesia termasuk Presiden mendatang, akan memperhatikan sektor pariwisata.
Kita berharap Presiden Indonesia dapat melihat betapa potensialnya kekayaan wisata negeri ini, kemudian mencanangkan bahwa pariwisata akan dijadikan tambang devisa negara, dan membenahi semua lokasi wisata. Kita berharap suatu saat kelak nama Indonesia akan dikenal sebagai destinasi utama di kawasan Asia, tak hanya Bali dan Lombok, tetapi juga berbagai daerah lainnya.
Serpong, 13 Juli 2008
Diposting oleh
Robert Adhi Ksp
di
15.7.08
0
komentar
Label: Liburan, Pariwisata
Menikmati Liburan (2) Ancol Masih Favorit bagi Wisatawan Nusantara
Kolom Blg Adhi Ksp
Menikmati Liburan (2)
Ancol Masih Favorit bagi Wisatawan Nusantara
ANCOL. Kami menikmati suasana Ancol pada awal pekan ini dan memilih menginap di Hotel Mercure Convention Center Ancol (dulu Hotel Horison). Hotel yang dikelola Accor Hospitality ini ternyata penuh oleh mereka yang sedang berlibur. Anak-anak, remaja sampai orang dewasa. Baik yang akan check-in maupun yang sedang mengurus check-out, antre panjang.
Kami memesan kamar yang menghadap pemandangan ke laut, dengan balkon di luar. Di kamar itu terdapat dua tempat tidur yang lebar plus satu sofa. Sejak dikelola Accor, hotel ini dipermak dan dipercantik. Saya memang memanfaatkan kartu keanggotaan Accor Advantage Plus, yang saya beli awal tahun ini. Bagi mereka yang suka plesiran dan hobi makan, kartu ini salah satu “jalan” yang tepat.
Kereta gantung (cable car) “Gondola” tampak dari kamar tempat kami menginap. Rupanya “Gondola” salah satu favorit pengunjung Ancol, yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Keluarga yang bersama kami di satu kabin, ternyata berasal dari Surabaya. Setiap orang yang naik kereta gantung ini dikenakan biaya Rp 35.000. Dari atas, kami dapat melihat suasana Ancol, termasuk suasana pantai umum yang airnya berwarna kecoklatan.
Selain kereta gantung, Ancol punya Sea World Indonesia, yang dikembangkan Grup Lippo (keluarga Riady). Beragam ikan dari perairan Indonesia, dapat disaksikan di sini, termasuk ikan perairan laut dalam. Atraksi “memberi makan ikan” yang dapat disaksikan dari akuarium raksasa, menjadi menarik. Aneka hewan laut tampak mendekat saat waktu pemberian makan tiba. Hewan-hewan laut ini dapat pula dilihat dari terowongan transparan.
Anak-anak terpukau menyaksikan “anak-anak buaya” tidur-tiduran, termasuk “buaya putih”. Ikan duyung yang sering digambarkan sebagai “putri duyung” ternyata wajahnya ya wajah ikan. Hanya saja bentuk tubuh bawahnya, memang aduhai, mirip lekukan tubuh perempuan. Pengunjung Sea World Indonesia juga terpukau melihat ikan-ikan hiu berkeliaran dalam akuarium khusus. Juga menyaksikan ratusan ikan piranha menghabisi ikan lainnya dalam sekejab.
Semasa liburan ini, pengunjung Sea World rata-rata 10.000 orang dalam sehari. Tarif masuk Rp 50.000 per orang. Biaya masuk lebih murah untuk kakek atau nenek (lansia). Tapi pada hari-hari biasa, bukan masa liburan, jumlah pengunjung berkisar antara 1.000 dan 3.000-an.Dunia Fantasi atau Dufan, tetap unggulan Ancol. Selain itu ada juga Gelanggang Samudra dan Gelanggang Renang Atlantis.
Ancol harus bekerja keras agar Atlantis tetap memikat karena kini bermunculan permainan air serupa seperti Ocean Park Water Adventure di BSD City (Tangerang), The Jungle (Bogor), Water Boom Lippo Cikarang (Bekasi), Water Boom Pantai Indah Kapuk (Jakarta). Juga ada permainan serupa dalam skala kecil di sejumlah perumahan.
Atraksi Police Academy akan berlangsung hingga Agustus 2008 mendatang, juga menarik pengunjung. Grup stuntman dan stuntwoman yang baru saja selesai syuting film James Bond terbaru itu, berasal dari Italia.
Selain menawarkan aneka ragam permainan dan pertunjukan, Ancol juga memiliki resto-resto berkelas yang lokasinya di tepi laut. Bandar Djakarta, restoran seafood, yang tak pernah sepi. Backstage yang lebih cocok untuk anak muda yang menikmati “hang out”, Segarra dengan sofa di tepi pantai, ataupun Jimbaran bernuansa Bali. Pengunjung resto-resto ini tetap dapat menikmati suasana deburan ombak tepi pantai. Kami memilih Jimbaran dengan suasana Bali, sebagai tempat makan malam.
Pekan sebelumnya, saya sempat bertemu dengan Direktur Utama PT Jaya Ancol Budi Karya Sumadi saat pembukaan Jakarta Great Sale di Pacific Place. Pak Budi cerita bahwa target Ancol dalam masa liburan awal Juni hingga pertengahan Juli ini adalah dua juta pengunjung. Saya kira target itu terpenuhi. Ancol memang lautan manusia selama masa liburan ini. Bahkan saat makan pagi di Hotel Mercure Ancol pun, karyawan hotel kewalahan. Tamu hotel yang datang menjelang waktu makan pagi selesai, sulit menemukan gelas, piring dan sejenisnya karena kehabisan!
Saat menikmati liburan di Ancol, saya melihat wajah-wajah gembira ada di mana-mana. Anak-anak, remaja sampai orang dewasa. Ancol masih memikat bagi wisatawan Nusantara, yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Serpong, 12 Juli 2008
Diposting oleh
Robert Adhi Ksp
di
15.7.08
0
komentar
Label: Liburan, Pariwisata
Monday, July 14, 2008
Menikmati Liburan (1) Deburan Ombak di Pantai: Kapan Pariwisata Menjadi Unggulan?
Kolom Blog Adhi Ksp
Menikmati Liburan (1)
Deburan Ombak di Pantai
Kapan Pariwisata Menjadi Unggulan?
KEMANA Anda menikmati liburan panjang lalu? Masa liburan memang hampir selesai. Kali ini, saya ingin berbagi cerita dan pengalaman tentang liburan. Banyak tempat wisata yang indah di Indonesia, mengapa harus berlibur ke luar negeri?
Lha, orang asing saja banyak yang berlibur ke tempat-tempat wisata di Indonesia, mengapa kita malah pergi ke luar negeri, untuk buang-buang devisa?
Pekan lalu, saya sekeluarga menikmati keindahan Pulau Sepa, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu dan masih masuk wilayah Jakarta. Pulau Sepa yang berjarak 54 mil dari Marina Ancol, dapat digapai dengan kapal cepat.Pulau ini masih memiliki pasir putih dan pantai bersih yang dapat digunakan bermain oleh anak-anak. Tentu saja kondisi pantai di Pulau Sepa, berbeda dengan pantai di Ancol yang relatif kotor. Air laut di pantai Pulau Sepa masih bening.
Dua turis asal Belanda yang menginap di Pulau Sepa, menyampaikan kekagumannya. “Beautiful island,” katanya. Pasangan wisatawan Belanda itu mungkin usianya sudah hampir 60 tahun. Mereka terbang dari Bandara Schipol Amsterdam, langsung ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. “Saudara saya bekerja di Jakarta,” kata mereka.
Keluarga orang asing lainnya yang menikmati keindahan Pulau Sepa adalah keluarga besar Korea Selatan. Saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu dari mereka. Ternyata reuni besar keluarga itu di Pulau Sepa. “Putri saya lama bermukim di Amerika. Setelah dia menikah, kami jarang bertemu. Baru kali ini kami bertemu lagi,” kata Ny Lee.
Pak Lee membawa saksofon dan alat karaoke produk Korea. Dia mengajak menyanyi bersama saat malam tiba. Begitulah keakraban sesama tamu terjalin di pulau indah, yang dapat ditempuh hanya 1,5 jam dari Marina Ancol.Pagi hari, kami menyaksikan pantai yang berada tepat di vila tempat kami menginap, menyurut. Batu karang, yang menjadi rumah ikan terlihat jelas. Namun angin laut bertiup sangat kencang.
Menjelang siang, air laut mulai pasang dan kembali normal. Ombak berkejar-kejaran. Suara deburan ombak dan semilir angin laut, membuat suasana di Pulau Sepa betul-betul suasana berlibur. Duduk di kursi santai di tepi pantai, sambil membaca buku dalam suasana tenang dan damai.
Bagi yang menyukai privasi, menginap pada saat weekdays saat yang tepat. Sebaliknya, bagi yang suka keramaian, pada weekends, pulau resor ini selalu ramai. Pulau Sepa ternyata merupaka lokasi berlibur yang favorit bagi orang asing, baik mereka yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya, maupun yang sengaja datang dari negara mereka.
Indonesia memiliki ribuan pulau, dan beberapa di antaranya merupakan pulau indah seperti Pulau Sepa. Seandainya saja pemerintah menyadari betapa pentingnya memperkuat sektor pariwisata sebagai tambang devisa negara, tentu pulau-pulau nan indah yang tersebar di banyak lokasi itu akan dibenahi dan menjadi destinasi.
Kapan pariwisata jadi unggulan?
Empat belas tahun silam, saya pernah ke Pulau Aruba di kawasan Karibia, Amerika Tengah. Pulau itu koloni Belanda, sekitar 50 mil barat laut dari Curacao. Waktu itu saya berpikir, Pulau Bali lebih baik dibandingkan Aruba. Bali memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Tapi jumlah turis yang datang, waw, gila-gilaan. Aruba dibantu Belanda, menang promosi.
Pulau Aruba seluas 193 km2 (Bayangkan luas Pulau Bali 5.633 km2) itu mulai menggalakkan pariwisata sejak tahun 1985 setelah sebelumnya dilanda krisis ekonomi. Nah sekarang banyak orang kaya dunia memilih berlibur di Aruba, pulau kecil di Karibia itu.Kembali ke soal pariwisata.
Malaysia sudah menyadari bahwa sumber daya alam mereka akan habis. Sepuluh tahun terakhir ini, Malaysia giat menggalakkan sektor pariwisata sebagai salah satu sumber devisa. Bagaimana dengan Indonesia?
Pulau-pulau nan indah jumlahnya ribuan, tapi dibiarkan terlantar, sia-sia. Kita ini seperti kelaparan di lumbung padi. Mungkin ada baiknya kita mengimbau presiden mendatang untuk peduli pariwisata. Bisa nggak buat gebrakan agar Indonesia, negeri nan indah dan rupawan ini, dikenal sebagai destinasi wisata utama di Asia?
Serpong, 12 Juli 2008
Diposting oleh
Robert Adhi Ksp
di
14.7.08
1 komentar
Label: Liburan, Pariwisata
Anak-anak Indonesia Peduli Lingkungan Hidup
Kolom Blog Adhi Ksp
Anak-anak Indonesia Peduli Lingkungan Hidup
KEPEDULIAN anak-anak Indonesia terhadap lingkungan hidup harus dipupuk sejak dini. Kepekaan dan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, harus dimunculkan sejak dini. Dan saya melihat 40 anak Indonesia dari seluruh Indonesia yang mengikuti “Creative Writing bagi Penulis Muda” telah menunjukkan kepedulian tersebut.
Bahkan saya berpendapat seharusnya Kementerian Negara Lingkungan Hidup memberikan penghargaan kepada Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia yang berinisiatif menggelar Lomba Menulis Nasional untuk Remaja 2008. Sebab dari lomba menulis ini, muncul tulisan-tulisan bernas dari siswa SMP dan SMA seluruh Indonesia, yang menggambarkan kepedulian dan kesadaran mereka akan pelestarian lingkungan hidup.
Kesan ini muncul setelah saya bertemu dengan para penulis muda (SMP dan SMA se-Indonesia) ketika menjadi salah satu pembicara dalam “Creative Writing bagi Penulis Muda” yang digelar YKAI dan UNICEF di NAM Center, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin 7 Juli lalu.Acara ini diikuti 40 penulis muda dari seluruh Indonesia. Sebagian pemenang lomba menulis nasional 2007 dan sebagian lagi pemenang 2008. Saya merasakan semangat mereka yang menggebu-gebu.
Dua di antara mereka, Alfinda Agyputri (SMA Dian Harapan Jakarta) yang menulis “Milikku, Bukan Milikku” dan Nurul Khusnul Khotimah (SMP Negeri Bolo, Bima, Nusa Tenggara Barat) yang menulis “Mengenal, Mencintai, dan Melestarikan Lingkungan Hidup” meraih penghargaan dari UNICEF atas karya-karya mereka yang bernas.
Saya mendapat kumpulan naskah terbaik Lomba Menulis Nasional untuk Remaja 2008 yang disunting Sondang K. Susanne Siregar dan Anto Ikayadi. Setelah membaca sekilas naskah-naskah tersebut, saya berkesimpulan, ada kepedulian anak-anak Indonesia terhadap kelestarian lingkungan. Luar biasa.
Rajinlah menulis dan membaca
Saya berpesan agar mereka tetap rajin menulis setiap hari. Mengacu pada pengalaman saya saat masih remaja seusia mereka, saya rajin menulis catatan harian di buku sejak SMP.Kehadiran weblog beberapa tahun terakhir ini sebenarnya akan sangat membantu mereka yang memulai menulis.
Menuangkan ungkapan, gagasan, ide, pemikiran di weblog sejak dini, akan menjadi catatan sejarah hidup. Sebab apa yang tertuang dan tercatat dalam weblog, tidak akan hilang sepanjang tidak dihapus sendiri oleh pemilik blog.
Saya menyarankan kepada peserta, para penulis muda, untuk selalu kreatif menulis. Dan weblog merupakan salah satu sarana yang pas bagi mereka. Ternyata 40 penulis muda ini sudah membentuk Komunitas Remaja Pena Anak Kreatif dan memiliki weblog http://bacatulisrenung.blogspot.com.
Agar tulisan mereka lebih berwarna, saya menyarankan agar mereka rajin membaca buku, majalah dan suratkabar setiap hari. Karena dengan membacalah, kita dapat melihat dunia dengan optimistis.
Bu Lily, Ketua Umum YKAI yang sempat hadir mengingatkan para penulis muda ini untuk melengkapi tulisan dengan data dan angka, dan memanfaatkan internet. Bu Lily benar. Atas bantuan “Om Google”, kita dapat mencari informasi, memperoleh data dan angka tentang berbagai topik, dari mesin pencari Google, selain Yahoo, Windows Live dan lainnya.
Jika pemerintah benar-benar ingin mencerdaskan bangsa ini, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan bagaimana agar biaya koneksi internet semakin murah dan terjangkau, terutama oleh mereka yang tinggal di daerah pelosok.Sebab saya merasakan betapa anak-anak Indonesia dari desa-desa di NTB, Aceh, Maluku, Sumatera Selatan, Bengkulu, DI Yogyakarta, Bali, Jawa Tengah, penuh semangat. Dan semangat mereka untuk menjadi penulis kreatif ini sebaiknya difasilitasi, misalnya ketika mereka ingin mencari informasi lebih dari internet. Koneksi internet yang lambat, harus segera diatasi.
Saya membayangkan koneksi internet menjangkau desa-desa di Bima, NTB. Saya mendengar cerita seorang peserta bahwa suratkabar Kompas pun tidak beredar di kabupaten itu. Mungkin pemimpin daerah yang baru menang Pilkada NTB dapat mendorong bagaimana mencerdaskan anak-anak daerah, salah satunya dengan cara memudahkan akses internet hingga ke pelosok.
Saya mengimbau para pemimpin daerah baru di Jawa Tengah, Pak Bibit dan Bu Rustriningsih, dan para pemimpin daerah lainnya untuk merealisasikan janji mereka untuk peduli pendidikan. Nasib bangsa ini kelak, ada di tangan anak-anak muda ini.Semua pemimpin daerah pasti berjanji saat kampanye.
“Bangun banyak perpustakaan di semua pelosok desa agar makin banyak anak Indonesia yang rajin membaca. Perbaiki gedung-gedung sekolah yang rusak agar anak-anak Indonesia dapat belajar dengan nyaman. Perbaiki kualitas pendidikan, termasuk perhatian terhadap nasib guru yang telah mengabdikan hidup mereka untuk mencerdaskan bangsa”. Kita tinggal menunggu realisasi janji-janji itu.
Ayo, adik-adikku pelajar SMP dan SMA di seluruh Indonesia, teruslah rajin menulis dan membaca. Menulis di weblog, seperti ini, salah satu sarana yang tepat untuk belajar.
Jakarta, 9 Juli 2008
Diposting oleh
Robert Adhi Ksp
di
14.7.08
0
komentar
Label: Creative Writing, Jurnalistik
Jakarta Great Sale, Mungkinkah Saingi Singapura?
Kolom Blog Adhi Ksp
Jakarta Great Sale, Mungkinkah Saingi Singapura?
HARI Jumat (27/6) malam lalu, saya iseng ke Hotel Grand Hyatt Jakarta di Jalan MH Thamrin. Awalnya saya tidak terlalu "ngeh" bahwa pada malam itu di Plaza Indonesia, akan ada Midnight Sale. Setelah kesulitan mencari parkir lebih dari 30 menit (teman saya lebih stres lagi, lebih dari satu jam, tetap tak dapat tempat parkir), barulah saya tersadar bahwa malam itu akan digelar Midnight Sale.
Saya ingat sepekan sebelumnya, di Senayan City, juga ada Midnight Sale selama empat malam. Gila. Banyak sekali orang yang berbelanja produk-produk berkelas dengan harga diskon.
Debenhams, ritel baru di bawah pengelolaan PT Mitra Adi Perkasa (MAP) ini menjual produk berkelas dengan harga diskon, seperti yang biasa dibeli banyak orang Indonesia bila sedang ke Singapura. Sukses Debenhams ini terulang lagi ketika ritel yang sama di Plaza Indonesia, menggelar Midnight Sale serupa pada 27 Juni lalu.
Pada malam itu, bukan hanya Plaza Indonesia, tetapi juga Grand Indonesia, pusat belanja dan rekreasi keluarga baru, yang lokasinya bertetangga dengan Plaza Indonesia, yang menggelar Midnight Sale. Pantas, Jalan MH Thamrin, di seputaran Bundaran HI selepas pukul 21.00 masih padat. Dari Midnight Sale selama dua pekan terakhir ini, saya mengambil kesimpulan betapa orang Indonesia "haus" berbelanja. Pantas saja selama ini banyak yang mencari produk berkelas berharga murah di Singapura.
Hari Minggu (29/6) sore, Jakarta Great Sale resmi dibuka Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di atrium pusat belanja dan rekreasi keluarga baru, Pacific Place di kawasan superblok SCBD, Jakarta. Dalam acara yang menonjolkan seni dan budaya Betawi itu, hadir pemilik Pacific Place (termasuk apartemen dan Hotel The Ritz-Carlton) adalah Sugianto Kusuma alias Aguan dan Tan Kian. Asal tahu saja, Pacific Place dibangun dengan nilai investasi sekitar 500 juta USD.
Pak Fauzi kemudian bilang bahwa Jakarta Great Sale akan dikemas sedemikian rupa sehingga dapat menyaingi Great Singapore Sale, Malaysia Mega Sale ataupun Hongkong Great Sale. Saya sependapat dengan pernyataan Pak Gubernur.
Saya pernah mendapat tugas meliput Great Singapore Sale (GSS) beberapa tahun lalu. GSS dikemas sedemikian rupa. Singapore Tourism Board atau STB memadukan semua pihak sehingga event GSS menjadi atraktif. Jadi tidak sekadar mengajak wisatawan asing berbelanja, tetapi juga mengajak mencicipi kuliner dalam Singapore Food Festival dan mengajak menonton acara seni budaya dalam Singapore Art Festival, yang waktunya disesuaikan dengan waktu pernyelenggaraan GSS, yang biasanya digelar sejak Mei hingga Juli.
Ketika wartawan Indonesia termasuk saya diajak ke Safari Night di Singapura, saya pun bertanya-tanya, apa bagusnya ya Safari Night di sana. Menurut saya, Taman Safari Indonesia milik Pak Frans Manangsang lebih bagus kok, lebih lengkap koleksi satwanya. Ternyata Singapura jago “menjual”. Promosi mereka gencar, sehingga kata-kata lebih indah dari faktanya.
Lalu wartawan Indonesia diajak ke lokasi spa. Waktu saya bilang sama “guide” STB bahwa spa di Indonesia lebih bagus dibandingkan spa di negeri itu. Petugas STB bilang spa itu berasal dari Thailand. Saya bilang lagi, wah kalau di Indonesia, spa-spa dengan aroma khas di Jawa Tengah dan Yogyakarta masih yang terbaik. Tetapi saya akui bahwa pengorganisasian dan promosi GSS oleh STB memang luar biasa. “Marketing” Singapura oke punya.
Tadi saya sempat ngobrol dengan Vice President Luxury Shopping Mall PT Pacific Place Indonesia Dianne Pearce. Dia bilang Singapura mampu merealisasikan itu dalam waktu 15-20 tahun. Dianne yakin Jakarta Great Sale pun punya potensi menyaingi GSS asal semua pihak bersinergi dengan dukungan pemerintah. Infrastruktur transportasi juga perlu diperhatikan karena masalah kemacetan lalu lintas merupakan persoalan tersendiri.
Menunggu MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas selesai dan beroperasi tahun 2014, wah terlalu lama. Busway? Belum menjangkau semua wilayah, termasuk kawasan SCBD. Menurut Dianne, perlu terobosan lain misalnya monorel yang menghubungkan mal satu dengan yang lainnya. Dan ini akan lebih mengundang banyak wisatawan asing datang ke Jakarta.
JGS mendatang lebih baik?Pak Fauzi Bowo pernah menjabat Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta tahun 1990-an. Karena itu tentu kita berharap “sentuhan” Pak Fauzi Bowo dalam JGS mendatang membuat JGS makin lebih baik.
Kualitas mal-mal di Jakarta tidak kalah dari mal di Singapura. Bahkan Grand Indonesia (milik Grup Djarum dan Grup Wings) dan Pacific Place (milik Sugianto Kusuma dan Tan Kian) dapat disebut pusat perbelanjaan modern dengan segmen pasar kelas menengah dan menengah atas. Senayan City pun demikian. Gerai waralaba dan produk yang dijual, tak jauh beda dengan di Singapura, Malaysia, Hongkong dan lainnya.
Cobalah Anda datang ke mal-mal baru itu. Susah cari parkir dan selalu penuh. Jarang ada mal di Jakarta yang lahan parkirnya lengang. Mungkin berapa pun mal baru yang dibangun, akan selalu ramai, terutama mal-mal middle-up. Mungkin ini pertanda kelas menengah Indonesia terus tumbuh berkembang. Mungkin ini juga pertanda ekonomi kota ini terus menggeliat, meski tingkat inflasi masih tinggi.
Bukan hanya mal baru yang ramai, tetapi juga pusat-pusat belanja yang sudah lama berdiri juga masih ramai. Plaza Senayan, Pondok Indah Mal, Mal Taman Anggrek, Mal Ciputra, Mal Kelapa Gading dan sebagainya. Di pinggiran Jakarta, di daerah perumahan yang sedang berkembang ada Summarecon Mal Serpong dan Supermal Karawaci, juga Cibubur Junction.
Nah, kembali ke soal Jakarta Great Sale. Saya sempat tanyakan kepada Pak Benjamin Mailool (CEO dan Presiden PT Matahari Putra Prima Tbk), Ketua Pelaksana JGS 2008 dan Surjadi Sasmita (Presiden PT Indonesia Wacoal), Sekretaris Pelaksana JGS, mengapa JGS kurang promosi. Mereka bilang karena persiapannya hanya satu bulan. Tetapi, mereka katakan bahwa JGS tahun-tahun mendatang, akan lebih baik.
Aneh jika misalnya JGS tak punya anggaran promosi dari Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Pak Arie Budhiman, Kepala Dinas Pariwisata bilang, dia pun belum lama menjabat sehingga persiapan pun kurang. Tapi JGS mendatang, Pak Arie bilang anggaran promosi pasti ada.
Lha, siapa yang mau datang, jika tak ada promosi tentang JGS? Sebagus apa pun produk, tapi kalau tidak diinformasikan, ya akan sedikit yang datang, kata Pak Fauzi.
Saya sempat ngobrol dengan Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi. Pak Budi bilang kalau saja JGS dipadukan dengan paket hotel, penerbangan, agen perjalanan, dan pusat rekreasi keluarga seperti Ancol, tentu hasilnya akan lebih maksimal.
Peran pemerintah menjadi fasilitator menjadi sangat penting karena biasanya masing-masing asosiasi lebih sering menonjolkan ego sendiri daripada bersinergi. Nah Pak Mara Oloan Siregar, Asisten Perekonomian DKI Jakarta mengatakan ke depan, pihaknya akan menjadi fasilitator agar JGS dikerjakan dengan sinergi antar-asosiasi.
Kita tunggu realisasinya, Pak!
Jakarta, 30 Juni 2008
Diposting oleh
Robert Adhi Ksp
di
14.7.08
0
komentar
Label: Bisnis, Pariwisata
Internet, Kunci Kemenangan Barack Obama
Kolom Blog Adhi Ksp
Internet, Kunci Kemenangan Barack Obama
INTERNET diakui sebagai salah satu kunci kemenangan Barack Obama untuk maju sebagai calon Partai Demokrat dalam Pemilihan Umum Amerika Serikat. Obama, Senator Illinois ini unggul dari saingannya, Hillary Clinton, Senator New York.
Obama dan timnya betul-betul memanfaatkan internet sebagai alat menuju kesuksesan. Hal ini tidaklah heran karena di Amerika Serikat, 71,9 persen atau 218,3 juta dari 303,8 juta penduduknya (catatan InternetWorldStats sampai November 2007) menggunakan internet. Bahkan internet merupakan bagian utama kehidupan politik Amerika akhir-akhir ini.
Obama memiliki situs sendiri, yang memudahkan politisi berkulit hitam ini mengumpulkan donasi untuk dana kampanyenya lewat pengiriman online.Tapi selain itu, untuk lebih mudah berkomunikasi dengan para pendukungnya, Barack Obama memiliki jejaring sosial entah dibuat sendiri atau oleh timnya. Obama misalnya memiliki jejaring sosial facebook, yang sampai hari Kamis (12/6) ini memiliki hampir satu juta suporter, beberapa di antaranya terdapat warga negara Indonesia.
Barack Obama juga punya political friendster. Di jejaring sosial friendster, Obama memperkenalkan dirinya dan menyapa para sahabat dan pendukungnya.
Tampaknya Obama memanfaatkan semua jejaring sosial yang dapat diakses lewat internet, termasuk twitter, myspace, dan youtube.
Ketika Senator Illinois ini mulai berkampanye untuk mendapatkan kursi sebagai wakil dari Partai Demokrat, semuanya sudah disiapkan dengan matang. Semua jejaring sosial, situs, facebook, friendster, twitter, myspace, youtube, digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi dengan pendukung dan menjadi alat bagi pengumpulkan donasi bagi kampanye-kampanyenya melawan Senator New York, Hillary Clinton.
Menurut pakar Phil Noble seperti dilansir BBC, Obama meraih sekitar satu miliar dollar AS selama kampanye tahun 2008. Jumlah ini 12 kali lebih banyak dibandingkan perolehan John Kerry, yang juga memperoleh dana kampanye pada tahun 2004 lalu. Noble juga menyebutkan, dua juta aktivis Obama siap dimobilisasi sebagai sukarelawan dalam kampanye, dan ini kunci penting memenangkan pemilihan umum.
Profesor Thomas Patterson dari Universitas Harvard memperkirakan, popularitas Obama dalam jejaring sosial, akan menarik para pemilih muda dan kalangan terdidik Amerika.Dan yang menarik, video musik "Yes We Can" yang ditayangkan di YouTube, dengan bintang tamu antara lain Jesse Dylan, Will.i.am, Common, Scarlett Johansson, Tatyana Ali, John Legend, Herbie Hancock, Kate Walsh, Kareem Abdul Jabbar, Adam Rodriquez, Kelly Hu, Adam Rodriquez, Amber Valetta, Eric Balfour, Aisha Tyler, Nicole Scherzinger dan Nick Cannon, dalam dua hari diklik 698.934 kali.
Pelajaran yang dapat diambil dari kampanye Barack Obama bagi politisi Indonesia yang akan berkampanye dalam Pemilihan Presiden 2009 adalah bagaimana memanfaatkan internet sebagai alat yang efektif dan efisien.
Politisi Malaysia sudah membuktikannya. UMNO menganggap remeh kekuatan internet dan blog. Tokoh lawan politik UMNO seperti Anwar Ibrahim dan Lim Kit Siang memiliki blog dan jejaring sosial. Jumlah pengguna internet di Malaysia sampai Juni 2007 tercatat 14,9 juta orang atau 59 persen dari jumlah penduduk 25,2 juta orang.Infrastruktur internet di Indonesia memang masih tidak sebaik di Amerika atau Malaysia.
Jumlah pengguna internet di Indonesia sampai Mei 2007 tercatat baru 8,4 persen atau sekitar 20 juta dari 237,5 juta penduduk Indonesia. Tapi jika tarif koneksi internet makin murah dan infrastruktur dibangun sampai pelosok desa, saya yakin internet akan menjadi alat bagi politisi Indonesia. Apalagi saat ini sejumlah kota di Indonesia sudah dan akan mencanangkan diri sebagai cyber city. Jumlah pengakses internet dai kalangan remaja dan anak muda makin banyak.
Mengapa politisi Indonesia tidak memulai memanfaatkan internet dari sekarang? Sampaikan konsep dan pemikiran yang cerdas tentang pembangunan kota, provinsi, dan negara di weblog dan website masing-masing. Manfaatkan jejaring sosial facebook, twitter, myspace, friendster, youtube dan sejenisnya, sebagai alat untuk memperkenalkan diri.
Saya mengutip lagi kata-kata Barack Obama, "Yes We Can!" Kalau kita mau pasti bisa!
Serpong, 12 Juni 2008
Diposting oleh
Robert Adhi Ksp
di
14.7.08
2
komentar
"Success is nothing if you can't enjoy it"
Kolom Blog Adhi Ksp
"Success is nothing if you can't enjoy it"
SAYA membaca kalimat ini di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Success is nothing if you can't enjoy it. Iklan aktraktif sebuah bank asing ini mengena di hati saya. Benar. Sukses yang kita raih dan kita miliki tak berarti apa-apa jika kita tak dapat menikmatinya. Saya tidak mengulas soal iklan itu, tetapi saya tertarik pada kata-kata tersebut.
Banyak orang yang bekerja di kota besar seperti di Jakarta, sibuk bekerja keras sejak pagi hingga malam, bahkan sampai menjelang tengah malam. Demi karier dan gaji, mereka rela bekerja lebih keras, menghabiskan waktu 13-16 jam dari 24 jam sehari. Jika waktu istirahat enam jam, artinya ada waktu sisa 18 jam dalam sehari. Namun jika 14-16 jam waktu dihabiskan untuk bekerja, berapa waktu yang tersisa untuk "menikmati" sukses dari hasil kerja keras Anda?
Persoalannya, beberapa teman saya mulai mengeluhkan kondisi yang menyebabkan mereka seakan hidup asosial, jarang bertemu keluarga, apalagi tak sempat lagi bergaul dengan sahabat. Hidup menjadi seakan monoton, dari hari ke hari menghadapi rutinitas pekerjaan. Salah siapa?
Tentu saja saya tidak ingin mengalami situasi semacam itu.
Saya ingat pernah membaca buku berjudul "The Heart of A Leader" karya Ken Blanchard. "Jangan bekerja lebih keras, bekerjalah lebih cerdas", demikian pesan Ken Blanchard. Kebanyakan orang masih berpikir bahwa ada hubungan langsung antara banyaknya kerja yang dilakukannya dengan sukses. Semakin banyak waktu yang Anda habiskan untuk bekerja, semakin sukses Anda nantinya.
Seorang pengusaha sukses saat ditanya syarat menjadi sukses memberi kiat. "Meraih sukses itu mudah. Anda tinggal bekerja setengah hari. Anda bisa bekerja di paruh hari yang pertama ataupun yang kedua," demikian tulis Ken. Sementara orang sukses memang bekerja keras, mereka berpikir dulu sebelum bekerja. Mereka proaktif bukan reaktif. Sebagian pekerja keras menempelkan kata-kata ini di meja kerjanya, "Jangan duduk saja di situ, lakukanlah sesuatu!".
Namun Ken Blanchard, pengarang buku "The One Minute Manager" mengatakan, nasihat terbaik yang pernah diterimanya adalah mengubah kata-kata itu menjadi, "Jangan kerja melulu, duduklah!"
Ken lalu memberi nasihat, "Jika Anda tidak meluangkan waktu untuk berpikir, menyusun strategi, dan menyusun prioritas, Anda akan bekerja jauh lebih keras, tanpa menikmati manfaat pekerjaan yang dikerjakan dengan cerdas."
Menurut saya, bekerja keras itu kewajiban. Tetapi bagaimana kita juga dapat menikmati sukses hasil kerja keras itu? Bekerjalah lebih cerdas. Dalam sehari waktu yang tersedia 24 jam. Jika waktu istirahat 8 jam, masih tersisa 16 jam. Nah jika waktu kerja kita 8 jam (bahkan lebih), manfaatkan waktu 8 jam sisanya untuk "bermain" dan menikmati hasil kerja keras Anda. Bahkan jika kita menikmati pekerjaan kita, maka sepanjang hari, kita selalu menikmati hidup.
Saya meyakini kata-kata dalam iklan sebuah bank asing itu bahwa "success is nothing if you can't enjoy it".
Luangkan waktu untuk menikmati hidup Anda seperti berolahraga secara rutin (tenis, renang, futsal, golf dan sebagainya), menikmati hobi Anda (membaca, menyanyi, ngeblog dan lainnya), bersosialisasi dengan aktif dalam organisasi, berkumpul dengan teman-teman pada saat santai mulai dari berkaraoke sampai meneguk wine, berlibur di pantai atau gunung dan menikmati waktu santai bersama keluarga, dan tentu saja selalu bersyukur kepada Sang Pecipta atas segala sesuatu yang telah kita peroleh selama ini. Kalau aktivitas-aktivitas ini sudah dapat Anda lakukan, Anda telah menikmati sukses dari hasil kerja keras selama ini.
Work hard, play hard. Anda setuju, bukan?
Serpong, 11 Juni 2008
Diposting oleh
Robert Adhi Ksp
di
14.7.08
0
komentar
Label: Pengembangan Kepribadian
Mendambakan Transportasi Massal yang Nyaman dan Aman di Jabodetabek
Kolom Blog Adhi Ksp
Mendambakan Transportasi Massal yang Nyaman dan Aman di Jabodetabek
PT Kereta Api sangat responsif. Kebutuhan masyarakat akan transportasi yang nyaman dan harga terjangkau, ditanggapi dengan menambah perjalanan KRL Jakarta-Serpong dan KRL Jakarta-Bogor sampai menjelang tengah malam. Kebijakan PT KA Jabotabek ini patut dipuji karena momennya pas, yaitu saat harga BBM melambung tinggi.
Apa yang pernah saya sampaikan dalam blog ini, betapa masyarakat mendambakan KRL beroperasi hingga malam hari mendapat tanggapan yang cepat dari PT KA. Kepala PT KA Divisi Jabotabek Ahmad Marzuki Selasa (3/6) pekan lalu mengumumkan secara resmi ihwal penambahan waktu operasi KRL jurusan Jakarta-Serpong dan KRL Jakarta-Bogor. Bahkan pada 9 Juni malam, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal meresmikan pengoperasian KRL malam ini. Menhub menyatakan pengoperasian KRL ke depan bakal 24 jam.
Penyediaan transportasi massal yang nyaman, aman dan terjangkau, memang merupakan tanggung jawab pemerintah. Sistem bus transjakarta yang diterapkan di Jakarta terus dikembangkan. Kita tentu harus angkat topi pada Bang Yos saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, tetap ngotot membangun sistem transportasi busway, meski banyak pihak menentangnya. Toh sekarang busway menjadi salah satu solusi bagi masyarakat akan transportasi massal yang cepat dan terjangkau.
Bahkan oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, koridor busway akan ditambah menjadi 15 koridor sampai tahun 2010 nanti. Bulan September mendatang, tiga koridor baru busway akan dioperasikan, yaitu koridor VIII (Harmoni-Pondok Indah-Lebak Bulus), IX (Pinang Ranti-Grogol) dan X (Cililitan-Tanjung Priok). Dalam dua tahun ke depan, lima koridor baru yang mencapai perbatasan Jakarta dengan wilayah sekitarnya, akan dibangun. Koridor XI (Pulogebang-Kampung Melayu), XII (Pluit-Tanjungpriok), XIII (Pondok Kelapa-Blok M), XIV (UI-Pasarminggu-Manggarai), dan XV (Ciledug-Blok M).
Bagaimana caranya agar busway ini efektif hingga ke Bodetabek? Harapan masyarakat pengguna busway agar pemerintah mengoperasikan busway hingga malam hari hendaknya ditanggapi serius.
Ada pendapat, operasi malam hari bakalan rugi. Saya tidak sependapat dengan komentar tersebut. Sebab pemerintah punya tanggung jawab menyediakan transportasi massal yang aman dan nyaman bagi rakyat. Bukankah masyarakat sudah membayar pajak? Nah, mengapa pajak-pajak yang dikutip dari rakyat itu tidak dikembalikan dalam bentuk penyediaan transportasi massal yang nyaman?
Saya juga berpendapat, pemerintah kota dan kabupaten di sekitar DKI Jakarta harus mendukung sistem transportasi busway ini. Caranya, dengan menyediakan bus-bus pengumpan dari lokasi Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor ke halte busway terdekat. Misalnya Kota Tangerang dengan halte di Daan Mogot Jakarta Barat, Serpong dengan halte Lebak Bulus Jakarta Selatan, Bekasi dengan Pulogebang, Depok dengan halte di kampus UI. Kira-kira seperti itulah. Saya pernah menanyakan hal ini kepada Wagub Banten Moch Masduki dan Kepala Bappeda Jawa Barat Deny Juanda saat mereka rapat kerja di DPR. Mereka setuju, tapi yang paling penting, realisasinya di lapangan.
Bayangkan, setiap hari sedikitnya 700.000 kendaraan dari Bodetabek masuk Jakarta. Kalau pemerintah sungguh-sungguh ingin mengurangi konsumsi BBM dan jumlah kendaraan pribadi masuk Jakarta, ya sediakanlah transportasi massal yang nyaman dan aman, langsung dari Tangerang, Bekasi, Depok dan Bogor, dekat dengan tempat tinggal masyarakat.
Operasikan bus pengumpan ke halte busway terdekat sejak pagi hingga malam hari, seperti PT KA mengoperasikan KRL hingga menjelang tengah malam. Kalau ini dapat diwujudkan pemerintah secara terpadu dan terintegrasi, saya kira, akan banyak pemilik mobil pribadi yang akan beralih ke transportasi massal, baik busway maupun KRL.
Saat ini bus pengumpan disediakan pengembang perumahan seperti BSD, Summarecon Serpong, Bukit Sentul, Kota Wisata Cibubur, Kemang Pratama. Okelah, ini kan pelayanan pengembang bagi warga yang tinggal di perumahan. Tapi bagaimana pelayanan pemerintah bagi masyarakat secara luas? Dibutuhkan bus pengumpan yang lebih banyak. Tujuannya tak usah jauh-jauh, cukup ke halte terdekat bus transjakarta.
Bagaimana dengan KRL? Naik KRL dari Serpong ke Palmerah misalnya, hanya butuh waktu 20-25 menit, tergantung kecepatan. Naik busway dari Blok M ke Kota tanpa hambatan, butuh waktu 30-an menit. Sungguh menghemat waktu dan energi.
Dalam kolom ini, saya ingin menyampaikan usul kepada pemerintah, segera wujudkan sistem transportasi massal yang terpadu, tak hanya Jakarta tetapi juga Bodetabek. Alangkah nyamannya kalau warga Tangerang bisa naik busway ke Jakarta dari kotanya. Tentunya Wali Kota dan Bupati Tangerang perlu merealisasikan penyediaan bus-bus pengumpan hingga halte terdekat. Demkian halnya Bupati/Wali Kota Depok, Bekasi dan Bogor. Harus ada kemauan politik. Lha, pemerintah terus mengimbau rakyat menghemat konsumsi BBM, tetapi pemerintah tak membangun infrastruktur transportasi, ya percuma juga.
Menunggu MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas yang dibiayai pinjaman Japan Bank for International Cooperation? Kita harus menunggu paling cepat enam tahun lagi atau tahun 2014, baru bisa menikmati MRT dimaksud. Sementara jumlah kendaraan pribadi sudah bertambah berlipat-lipat ganda dalam masa enam tahun itu. Dan kita tak punya waktu lagi untuk menunggu.
Sudah waktunya kepala-kepala daerah di Bodetabek bersepakat menyediakan bus-bus pengumpan ke halte busway terdekat. Ini demi kepentingan masyarakat Bodetabek yang bekerja dan akan ke Jakarta. Anda setuju kan?
Serpong, 9 Juni 2008
Diposting oleh
Robert Adhi Ksp
di
14.7.08
0
komentar
Label: Transportasi
Kolom Blog Adhi Ksp
Kompas.com Reborn
KOMPAS.com Reborn. Pesta kelahiran kembali portal berita Kompas.com ini dirayakan di grand ballroom Hotel Mulia Senayan, Jumat 29 Mei lalu. Pesta ini dimeriahkan oleh selebriti Deddy Cobuzier, Sandra Dewi, Ari Lasso dan Bunga Citra Lestari. Hadir Pemimpin Umum Harian Kompas Bapak Jakob Oetama, yang juga pemilik perusahaan Kompas Gramedia, serta CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo. Ada juga Menteri Komunikasi dan Informasi Mohammad Nuh.
Direktur Eksekutif Kompas.com, Taufik H Mihardja pada malam itu menandatangani kerja sama dengan mitra barunya, Adaro Energy dan Limelights Network. Liputan soal Kompas.com Reborn ini dapat diklik di sini. Tamu-tamu yang hadir antara lain Peter Gontha, Yenny S Wahid, Mien R Uno, dan banyak lagi, antara lain sejumlah petinggi perusahaan teknologi komunikasi di Indonesia.
Kompas.com Reborn menjadi berarti karena melalui teknologi terbaru, pembaca yang mengakses Kompas.com dapat pula menikmati live streaming Kompas.tv dan Seleb.tv. Bahkan beberapa hari terakhir ini, Kompas.com bekerja sama dengan TV One, yang memungkinkan pengakses Kompas.com dapat menikmati siaran langsung TV One di Kompas.com.
Kompas.com juga menjadi menyenangkan karena siapa saja boleh mengirim videonya ke Videoku di Kompas.com. Semacam Youtube, tapi dalam ruang lingkup Indonesia. Variasi isi Kompas.com yang memanfaatkan teknologi inilah yang membuat Kompas.com unggul dibandingkan portal berita lainnya. Kompas.com tampil dengan inovasi baru.
Pesta Kompas.com Reborn di Hotel Mulia Senayan menegaskan betapa dunia jurnalistik dotcom menjadi kebutuhan sehari-hari. Dan Kompas.com tidak sekadar menyajikan berita dan laporan terkini, tetapi juga memberi hiburan kepada para pengaksesnya.
Selamat dan sukses selalu untuk Kompas.com...
Jakarta, 30 Mei 2008
Diposting oleh
Robert Adhi Ksp
di
14.7.08
0
komentar
Label: Pers, Teknologi Komunikasi
Mendambakan KRL Beroperasi Hingga Larut Malam
Kolom Blog Adhi Ksp
Mendambakan KRL Beroperasi Hingga Larut Malam
HARGA BBM naik lagi sejak Sabtu 24 Mei 2008 pukul 00.00. Aksi unjuk rasa yang dilancarkan sejak dua pekan sebelumnya yang meminta pemerintah tidak menaikkan harga BBM, ternyata tidak digubris. Pemerintah menyampaikan alasan kenaikan harga BBM ini untuk menyelamatkan APBN akibat melonjaknya harga minyak dunia yang mencapai lebih dari 130 USD per barel.
Bagi rakyat kecil, mereka tentu tak mau tahu soal harga minyak dunia di pasaran global. Mereka hanya tahu makan apa hari ini. Program Bantuan Tunai Langsung atau BLT yang ditawarkan pemerintah, tentu bukanlah solusi yang cespleng karena pemberian uang tunai Rp 100.000 per bulan untuk masyarakat miskin, dinilai hanya akan melahirkan generasi pengemis, peminta-minta.
Sudah banyak komentar soal ini. Saya tidak ingin menambah komentar soal BLT atau pun naiknya harga BBM. Berbagai aksi unjuk rasa yang dilancarkan mahasiswa dan buruh di depan Istana Merdeka, intinya sama: menuntut pemerintah tidak menaikkan harga BBM. Tapi menurunkannya kembali, apa mungkin?
Dalam kolom ini, saya haya ingin menyampaikan usul dan harapan sebagian masyarakat pengguna Kereta Rel Listrik atau KRL yang beroperasi pada jurusan Tanah Abang-Serpong. Banyak warga mendambakan KRL dapat beroperasi hingga larut malam. Karena inilah salah satu solusi agar warga menghemat penggunaan BBM dan agar jumlah kendaraan pribadi yang masuk Kota Jakarta kian berkurang.
Mengapa PT KA tidak menambah frekuensi perjalanan KRL dari Jakarta ke Bodetabek dan sebaliknya? Saya beberapa kali menumpang KRL AC Ekonomi Ciujung dari Serpong ke Tanah Abang. Banyak di antara penumpang, para pekerja profesional. Mereka bukannya tidak punya kendaraan pribadi, Tapi mereka mengaku enggan naik mobil karena lalu lintas di Jakarta makin macet sehingga menghabiskan BBM dan menghabiskan waktu di jalan. Naik KRL? Waw, hanya 30-an menit sudah sampai di Tanah Abang, dan bebas macet lagi.
Ketika saya bertemu dengan Ketua Komisi V DPR Muqowam hari Minggu (25/5) lalu, wakil rakyat itu memberi pernyataan yang mendorong PT KA memaksimalkan pelayanan KRL di Jabodetabek. Operasikan KRL hingga pukul 24.00. Lalu hari Senin (26/5), saya menghubungi Kepala PT KA Divisi Jabotabek Ahmad Marzuki, yang ternyata merespon positif usulan banyak warga pencinta KRL ini.
Pak Marzuki berjanji dalam waktu dekat akan menambah jam operasi KRL hingga larut malam. Diakui bahwa jalur Tanah Abang-Serpong merupakan "jalur basah" dan "gemuk". Masalahnya, PT KA kekurangan masinis. Saat ini sedang digelar pendidikan untuk sejumlah masinis baru. Oke lah, kita pahami alasan PT KA.
Tetapi yang paling penting, jika pemerintah sungguh-sungguh ingin masyarakat mengurangi konsumsi BBM, pemerintah harus menyediakan sarana transportasi massa yang nyaman. Dan pilihannya salah satunya ada pada KRL. Maksimalkan KRL sebagai transportasi alternatif bagi warga yang enggan naik mobil pribadi.
Pak Menteri Perhubungan dan Pak Dirjen Perkeretaapian tentu sependapat jika kita ungkapkan betapa KRL menjadi primadona angkutan massa di kala harga BBM melambung. Kita menunggu langkah pemerintah memaksimalkan KRL. Tapi jangan terlalu lama, Pak.
Daripada setiap hari menghujat pemerintah dan menuntut harga BBM turun, bukankah lebih baik mencari solusi terbaik? Kita berharap pemerintah mendengarkan aspirasi masyarakat, sehingga penggunaan BBM dan jumlah kendaraan pribadi yang masuk Kota Jakarta, dapat dikurangi. Anda setuju kan?
Serpong, 28 Mei 2008
Diposting oleh
Robert Adhi Ksp
di
14.7.08
0
komentar
Label: Transportasi
Ikut Mengantar Bang Ali ke Peristirahatan Terakhir...
Kolom Blog Adhi Ksp
Ikut Mengantar Bang Ali ke Peristirahatan Terakhir...
BANG ALI telah tiada. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini dikenang sebagai pemimpin yang tegas, konsisten, berani, disiplin, dan visioner.
Banyak tokoh yng hadir saat pemakaman pendiri Korps Komando (KKO) Angkatan Laut -yang sekarang disebut Korps Marinir itu. Upacara pemakaman secara militer dipimpin langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Sumardjono.
Jenazah Letjen TNI Mar (Purn) Ali Sadikin tiba di TPU Tanah Kusir pukul 13.25 setelah disemayamkan di rumah duka di Jalan Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat. Jenazah Bang Ali dmakamkan pada pukul 13.40 di dalam satu lubang dengan istrinya dr Nani Sadikin, yang meninggal dunia lebih dahulu, yaitu pada tahun 1996 lalu. Lagu "Gugur Bunga" mengiringi kepergian tokoh nasionalis tersebut. Ini permintaan langsung Bang Ali agar jika beliau meninggal dunia, dimakamkan bersama istrinya, Nani Sadikin.
Budayawan WS Rendra menilai, tak ada pemimpin politik seperti Ali Sadikin. "Bang Ali adalah Gubernur DKI Jakarta yang memberi tempat pada seniman dan kesenian, baik dana anggaran maupun fasilitasnya. Tapi Bang Ali tak pernah melakukan intervensi," kata Rendra.
KSAL Laksamana Sumardjono mengatakan sosok Ali Sadikin sosok yang patut diteladani. Seniman Ratna N Riantiano dan Jajang C Noer bilang Bang Ali selalu peduli pada nasib kesenian dan kebudayaan. Slamet Rahardjo berpendapat bahwa Jakarta butuh dua kali pemimpin yang hebat sepert Bang Ali. Sedangkan AM Fatwa, tokoh Petisi 50 yang juga Wakil Ketua MPR mengatakan, Bang Ali pemimpin yang sangat setia membela anak buahya.
Yang paling berkesan bagi Gubernur DKI Jakart Fauzi Bowo, pesan Bang Ali yang selalu diingatnya adalah, "Kalau menjadi pemimpin, jangan ragu-ragu." Fauzi Bowo dan istrinya Ny Tati hadir di antara pelayat yang mengantarkan Bang Ali ke tempat peristirahatan terakhir.
Selain itu hadir di TPU Tanah Kusir adalah mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, pengurus PDI-P Budiman Sudjatmiko dan Sabam Sirait, wartawan senior seperti Parni Hadi, Fikri Jufri, August Parengkuan, serta seniman WS Rendra, Ratna N Riantiarno, Jajang C Noer dan banyak lagi.
Bang Ali yang sepanjang hidupnya mencintai rakyat, selalu dicintai rakyat sepanjang masa. Mencintai banyak orang, dan dicintai banyak orang. Itulah Bang Ali. Selamat jalan, Bang Ali...
Jakarta, 21 Mei 2008
Diposting oleh
Robert Adhi Ksp
di
14.7.08
0
komentar
Label: Tokoh
Perhimpunan Pewarta Multimedia Indonesia
Kolom Blog Adhi Ksp
Perhimpunan Pewarta Multimedia Indonesia
PESATNYA perkembangan dunia multimedia saat ini, mendorong sejumlah rekan yang sehari-hari aktif dalam dunia ini berpendapat perlu dibentuk satu perhimpunan.Andi "Daeng" Rahman, sang penggagas, bersama rekannya, Iskandar Siahaan melihat penyebaran informasi melalui internet terus meningkat. Lalu diundanglah sejumlah aktivis multimedia, mulai dari blogger journalist, citizen journalist, sampai pada online media journalist.
Memang belum mewakili semua potensi, namun ke depan, jika perhimpunan ini berjalan, akan diundang berbagai aktivis multimedia. Mereka yang hadir dalam rapat pertama di sebuah kantor di kawasan Jakarta Selatan pada hari Jumat 16 Mei 2008 adalah Wicaksono (blogger journalist), Hasymi Ibrahim pemilik Panyingkul dotcom wadah bagi citizen journalist, Iskandar Siahaan (blogger journalist), Adhi Kusumaputra (blogger journalist) Bramono (online media journalist), Billy Soemawisastra (blogger journalist), Andi Rahman Mangussara (blogger journalist), Farid M Ibrahim (citizen journalist), Prasetiyawan (citizen journalist), Yoga Mahardika (citizen journalist) dan Fahmi, (online journalist).
Perhimpunan ini tentu saja tidak berpretensi menjadi wadah bagi semua orang yang menulis lewat internet. Disepakati bahwa perhimpunan ini akan mewadahi mereka yang bergerak dalam dunia junalistik di bidang multimedia. Online media journalist, citizen journalist, blogger journalist.
Mengapa perhimpunan ini menjadi penting? Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau ITE yang disahkan pemerintah pada April 2008 ini memuat sejumlah "ranjau" yang dapat menjerat penulis dan jurnalis multimedia, entah dia blogger, penulis milis, jurnalis warga atau citizen journalist, ataupun jurnalis media mainstream yang tulisannya dapat diakses lewat internet.
Agenda pertama, perhimpunan ini akan menggelar seminar yang mengupas UU ITE.Soal nama, mengapa Pewarta Multimedia? Kami berdiskusi apakah akan menggunakan istilah asing atau Bahasa Indonesia. Lalu akhirnya Mas Billy mengungkapkan gagasan cerdasnya, mengapa tidak "pewarta multimedia"? Ini mencakup semuanya mulai dari online media journalist (termasuk fotografer), citizen journalist dan blogger journalist.
Dalam rapat perdana itu, saya ditunjuk menjadi Sekjen, yang diharapkan aktif menggerakkan roda organisasi. Untuk sementara, saya menerima tugas ini. Tugas saya dalam waktu dekat ini, bersama Mas Wicaksono dan kawan-kawan lainnya, membuat blog pewarta multimedia Indonesia, dan juga mailing-list pewarta multimedia. Blog dan milis akan menjadi sarana komunikasi yang efektif.
Dengan rendah hati dan tangan terbuka, kami menunggu saran, usul dan kritik para pewarta multimedia Indonesia, bagaimana agar Perhimpunan Pewarta Multimedia Indonesia atau disingkat menjadi PERTAMA ini dapat berkembang dan betul-betul menjadi wadah para jurnalis portal berita, jurnalis blogger, jurnalis warga dan mereka yang menyampaikan informasi melalui internet.
Salam hangat,
pewartamultimedia@gmail.com
Jakarta, 18 Mei 2008
Diposting oleh
Robert Adhi Ksp
di
14.7.08
0
komentar
Label: Blog, Organisasi, Pers
